MENGGAPAI INSAN TAQWA

MENGGAPAI INSAN TAQWA

Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang lima, wajib dikerjakan oleh setiap muslim yang mukallaf dan mampu. Puasa Ramadhan disyari’atkan pada hari Senin tanggal 2 Sya’ban tahun dua Hijriyyah, menurut salah satu riwayat tahun pertama setelah Nabi hijrah ke Madinah dengan turunnya ayat:

 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ( QS. Al Baqarah : 183 )           

 

Ketika Allah SWT. menetapkan sesuatu, baik itu perintah, larangan, atau ketentuan pasti mempunyai tujuan dan hikmah dibalik itu. Demikian halnya puasa Ramadhan, diwajibkan kepada setiap muslim mempunyai tujuan agar supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa yang senantiasa menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

 

Betapa pentingnya nilai taqwa bagi seorang muslim, dan taqwa  merupakan perbekalan yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan juga betapa tingginya derajat taqwa. Manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah SWT adalah orang yang paling taqwa.

 

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ

Artinya : Wahai manusia sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. ( Q.S. Al Hujarat ayat 13 )

 

 

Melaksanakan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh (jiddiyah) sesuai syari’at Islam lalu kemudian dihayati secara mendalam akan menanamkan dalam jiwa sifat ketaatan dan kepasrahan yang menyeluruh pada diri setiap jiwa muslim terhadap Allah SWT. Ketaatan dan kepasrahan seperti itulah merupakan langkah awal yang sangat menetukan untuk meraih derajat taqwa.

 

Taqwa merupakan sebuah harapan, artinya dengan puasa diri kita menjadi bertaqwa, bukan hanya saat berpuasa saja, tapi secara terus menerus, untuk bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya. Taqwa juga merupakan predikat yang harus diupayakan bagi tiap hamba.

 

Taqwa memang bukan predikat yang bisa kita dapatkan hanya dengan berpangku tangan saja, sekadar berharap dari Allah swt., tapi ia harus diburu dan diupayakan oleh seorang hamba dengan upaya yang maksimal, dengan niat tulus, ibadah yang sungguh-sungguh, dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kata taqwa menurut ethimologis adalah memelihara diri, takut pada azab Allah dan menjaga diri dari perbuatan tercela. Seperti yang digambarkan dalam sebuah kisah  mengenai percakapan Ubay bin Ka’ab dengan khalifah Sayyidina Umar bin Khattab. Bahwasannya Sayyidina Umar menjelaskan bahwa orang yang bertakwa itu adalah orang yang berhati-hati layaknya pejalan kaki yang melintasi jalan penuh duri.

Begitulah manusia yang memiliki ketakwaan. Sepantasnya mereka akan berhati-hati dalam menapaki kehidupan dalam situasi apa pun.

 

Menurut terminologis dengan gamblang Sayyid Al Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad Dimyathi dalam kitab Kifayatul Atqiya’wa Minhajul Ashfiya’. Beliau mengatakan bahwa takwa adalah:

 

عِبَارَةٌ عَنِ امْتِثَالِ أَوَامِرِ اللهِ، وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ ظَاهِرًا وبَاطِنًا، مَعَ اسْتِشْعَارِ التَّعْظِيْمِ لِلهِ، الهَيْبَة وَالخَشْيَة وَالرَّهْبَة مِنَ الله

 

“(Takwa adalah) istilah yang mengacu pada dilaksanakannya perintah-perintah Allah dan dijauhinya larangan-larangan-Nya secara dhahir maupun bathin, bersamaan dengan ikhtiar merasakan keagungan Allah, juga takut kepada-Nya.

 

Kalau kita analogikan taqwa itu Ibarat energi lisrik dalam sistem mekanik, maka yang nampak adalah output dari energi tersebut. Misalnya lampu bisa menyala, sertika bias panas dan kulkas bisa dingin. adalah karena ada energi listrik. Rasulullah mengatakan, “ Taqwa itu ada disini”, sambil beliau menunjuk ke arah dada sebanyak tiga kali.

 

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ...التقوى ههنا ويشير إلى صدره ثلاث مرات

 ...   -صحيح مسلم-

 

Dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda,” taqwa ada disini sambil beliau menunjuk ke arah adanya tiga kali” (HR. Muslim)

 

Yang nampak dari taqwa adalah prilaku dari pemiliknya, baik prilaku dalam hubunganya dengan Allah swt (hablum minallah) maupun dalam hubunganya dengan sesama manusia (hablum minanaas), yang bias kita lihat secara kasad mata dari mutaqun adalah sifat-sifat dan ciri-cirinya, seperti digambarakan dalam QS Ali Imran: 133-135 yang artinya :

 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

 

Al-Qur’an membeberkan dengan jelas, fadhilah atau keuntungan bagi orang bertaqwa :

 

  1. Dicintai Allah;

 

إِلَّا ٱلَّذِينَ عَٰهَدتُّم مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنقُصُوكُمْ شَيْـًٔا وَلَمْ يُظَٰهِرُوا۟ عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوٓا۟ إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَّقِينَ

“ Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”

  1. Adanya kebersamaan Allah SWT.  :

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan” (QS. An-Nahl : 128).

  1. Mendapatkan manfaat dan petunjuk Al-Qur’an.

 ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

 “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah : 2).

  1. Terjaga dari setan dan bisikannya.

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. Al-A’raf : 201).

  1. Terhindar dari rasa takut dan sedih.

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِيْۙ فَمَنِ اتَّقٰى وَاَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-A’raf : 35).

  1. Diterimanya amal.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-Maidah : 27).

  1. Memperoleh kemudahan setelah kesulitan, kelapangan setelah kesempitan.

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS. Ath-Thalaq : 2)

Kemudian,

وَالّٰۤـِٔيْ يَىِٕسْنَ مِنَ الْمَحِيْضِ مِنْ نِّسَاۤىِٕكُمْ اِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلٰثَةُ اَشْهُرٍۙ وَّالّٰۤـِٔيْ لَمْ يَحِضْنَۗ وَاُولَاتُ الْاَحْمَالِ اَجَلُهُنَّ اَنْ يَّضَعْنَ حَمْلَهُنَّۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (QS. Ath-Thalaq : 4).

  1. Memiliki firasat, hikmah dan cahaya hati.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu” (QS. Al-Anfal : 29).

  1. Masuk surga Allah.

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنۙ

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertqwa” (QS. Ali Imran : 133).

  1. selamat dari neraka.

ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا

“Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (QS. Maryam : 72).

  1. kedudukan tinggi di sisi Allah Ta’ala di hari kiamat.

زُيِّنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُوْنَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۘ وَالَّذِيْنَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat” (QS. Al-Baqarah : 212).

 

Demikianlah puasa mentarbiyah/mendidik diri kita untuk menggapai pribadi yang bertakwa, harus diingat oleh kita bahwa kesempatan spesial yang Allah berikan kepada kita memberikan banyak pelajaran kepada siapapun yang mau mengambilnya. Oleh karena itu jangan sia-siakan, kita berdoa kepada Allah swt agar diberikan kekuatan dan istiqomah untuk memaksimalkan kedatangannya, dan menjadi pribadi yg lebih baik setelahnya.



Tags:

Dipost Oleh Yana Suryana

(0) Comments

Leave a Reply